Tuesday, September 4

Revenge


#bima's side


Part 1

Bima --- cowok bertubuh ideal, pinter, baik --- berjalan santai memasuki kelas, menundukkan kepalanya santun kepada gadis-gadis yang meliriknya, dia seakan tak menghiraukannya, kecuali satu orang, Luna. Bima mengamati Luna --- gadis manis, cantik, pendiam, pintar, baik --- yang sedang mengerjakan tugas di bangku depan, tapi tak cukup berani, dia meneruskan langkahnya, lalu duduk kecewa di bangku paling belakang.
“cie, liatin apa lu, bim?” ledek sahabatnya, Diki, yang baru saja masuk kelas bersama Bima. Rambutnya terlihat masih basah, “ayo cepet! Si Afika uda nyariin lu tu di kantor, ketua kelas disuruh kumpul”.
“apa se, ia bentar, pake sepatu dulu, pasti Bu Afika juga masih sholat,” bantahnya, atau lebih tepatnya mengalihkan perhatian. Bima menghentakkan kakinya, pertanda dia telah memakai sepatunya, entah, ciri khas mungkin, dia selalu bersemangat dalam segala hal, terkadang terlalu.
Mereka berjalan santai keluar kelas, pasangan sahabat itu selalu pergi bersama, kemanapun, bahkan ke toilet, yap, kau benar, aku sempat mengira mereka kelainan, errrr, ok kamu tau lah. Bima kembali melirik Luna --- yang masih fokus pada tugasnya.
“asek. Asek!” ledek Diki lagi. Muka Bima memerah, lalu dia mempercepat langkah meninggalkan kelas.