Saturday, May 11

Kopi, Pagi, dan Matahari


"Kamu kenapaaa?" Laki-laki itu hanya diam, dia menunduk lesu, "kamu kenapa kok?" Hening, tidak ada jawaban. "Gio kenapa?" Dia mengangkat kepalanya, melihat gadis yang dari tadi mencemaskannya.
"Aku ada kelas, Di" sambil melempar senyum, tapi bukan senyum biasa, ada seciprat kesedihan yang berusaha dia sampaikan.
"Aku tau, dan itu ngga menjawab pertanyaanku, kamu kenapa kok? Ojok ruwet!" Radita semakin cemas, ia tahu Gio yang dikenalnya, senyuman itu, dan tingkah lakunya sekarang : ada masalah berat yang sedang ia coba tanggung sendiri.
Gio tidak menghiraukannya, lalu pergi begitu saja, tanpa kata, tanpa lambaian tangan yang kekanak'an, tanpa usapan rambut, tapi hanya senyum --- dan kesedihan dibaliknya.

Tuesday, November 20

Broken Promise, Broken Wing


Namanya Devi, untuk seorang gadis yang ceria, pandangannya kali ini begitu menyedihkan. Jika kau salah satu teman dekatnya, kau pasti tau ada masalah yang sedang dihadapinya sendirian, yang ia pendam, meskipun berulang kali ditanya, jawabnya sama “aku ngga papa kok”.
Senja dan secangkir good-day, seminggu ini telah menjadi teman akrabnya. Kegiatan favoritnya sekarang adalah melamun di teras. Terkadang pandangannya benar-benar kosong, seakan ia tidak disana, good-day nya pun dibiarkannya dingin, lalu masuk tanpa diminum seteguk pun.

Tuesday, September 4

Revenge


#bima's side


Part 1

Bima --- cowok bertubuh ideal, pinter, baik --- berjalan santai memasuki kelas, menundukkan kepalanya santun kepada gadis-gadis yang meliriknya, dia seakan tak menghiraukannya, kecuali satu orang, Luna. Bima mengamati Luna --- gadis manis, cantik, pendiam, pintar, baik --- yang sedang mengerjakan tugas di bangku depan, tapi tak cukup berani, dia meneruskan langkahnya, lalu duduk kecewa di bangku paling belakang.
“cie, liatin apa lu, bim?” ledek sahabatnya, Diki, yang baru saja masuk kelas bersama Bima. Rambutnya terlihat masih basah, “ayo cepet! Si Afika uda nyariin lu tu di kantor, ketua kelas disuruh kumpul”.
“apa se, ia bentar, pake sepatu dulu, pasti Bu Afika juga masih sholat,” bantahnya, atau lebih tepatnya mengalihkan perhatian. Bima menghentakkan kakinya, pertanda dia telah memakai sepatunya, entah, ciri khas mungkin, dia selalu bersemangat dalam segala hal, terkadang terlalu.
Mereka berjalan santai keluar kelas, pasangan sahabat itu selalu pergi bersama, kemanapun, bahkan ke toilet, yap, kau benar, aku sempat mengira mereka kelainan, errrr, ok kamu tau lah. Bima kembali melirik Luna --- yang masih fokus pada tugasnya.
“asek. Asek!” ledek Diki lagi. Muka Bima memerah, lalu dia mempercepat langkah meninggalkan kelas.