"Kamu kenapaaa?" Laki-laki
itu hanya diam, dia menunduk lesu, "kamu kenapa kok?" Hening, tidak
ada jawaban. "Gio kenapa?" Dia mengangkat kepalanya, melihat gadis
yang dari tadi mencemaskannya.
"Aku ada kelas, Di" sambil
melempar senyum, tapi bukan senyum biasa, ada seciprat kesedihan yang berusaha
dia sampaikan.
"Aku tau, dan itu ngga menjawab
pertanyaanku, kamu kenapa kok? Ojok ruwet!" Radita semakin cemas, ia tahu
Gio yang dikenalnya, senyuman itu, dan tingkah lakunya sekarang : ada masalah
berat yang sedang ia coba tanggung sendiri.
Gio tidak menghiraukannya, lalu pergi
begitu saja, tanpa kata, tanpa lambaian tangan yang kekanak'an, tanpa usapan
rambut, tapi hanya senyum --- dan kesedihan dibaliknya.

