"Kamu kenapaaa?" Laki-laki
itu hanya diam, dia menunduk lesu, "kamu kenapa kok?" Hening, tidak
ada jawaban. "Gio kenapa?" Dia mengangkat kepalanya, melihat gadis
yang dari tadi mencemaskannya.
"Aku ada kelas, Di" sambil
melempar senyum, tapi bukan senyum biasa, ada seciprat kesedihan yang berusaha
dia sampaikan.
"Aku tau, dan itu ngga menjawab
pertanyaanku, kamu kenapa kok? Ojok ruwet!" Radita semakin cemas, ia tahu
Gio yang dikenalnya, senyuman itu, dan tingkah lakunya sekarang : ada masalah
berat yang sedang ia coba tanggung sendiri.
Gio tidak menghiraukannya, lalu pergi
begitu saja, tanpa kata, tanpa lambaian tangan yang kekanak'an, tanpa usapan
rambut, tapi hanya senyum --- dan kesedihan dibaliknya.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------
6 bulan yang lalu,
Gio
Matanya yang hitam sudah hampir
sepenuhnya tertutup, kurang tidur, efek begadang --- mengerjakan tugas dan main dota. Beberapa
kali ia harus pura' mendengarkan celotehan dosen didepan, yang tak ia tahu
maksudnya. Note yang sejak tadi ia keluarkan, sudah penuh dengan tulisan' bak
pujangga, dan dipojok-pojoknya terdapat gambar graviti asal.
"Woi! Hahaha," kaget
seorang gadis dari sampingnya, "ojok tidur, aku mau curhat!"
Sip! Lengkap sudah : energinya yang
tinggal 5 watt, kuliah pagi dengan dosen yang sepeti ini, dan ditambah satu
orang ini --- yang bisa berjam-jam bercerita dan memaksa Gio untuk terus
mendengarkan, "hm?" Jawabnya singkat.
Gadis itu menatapnya, tatapan yang
bisa membuat siapapun merasa bersalah, tatapan anak kecil polos yang ingin
minta es krim. "Hhhh, ia, apa nabila?" Gio terpaksa harus menegakkan
badan dan mengangkat alis, seolah-olah tertarik dengan apa yang akan
didengarnya.
"Nadhira, Gio!!" Pintanya
tidak setuju karena Gio memanggil nama depannya. "Aku lagi suka ama anak
lho! Jadi gini....."
Sip! Akhirnya setelah 15 menit
bercerita, akhirnya selesai juga. Gio benar-benar sudah lelah, "Bil, nanti
tasku bawain ya, enteng kok" lalu secepat kilat ia sudah berada didepan,
melempar senyum sopan kepada dosen, "pak, izin ke kamar mandi"
Keluar dari sana, mata Gio kembali
terbuka lebar, kakinya terasa ringan, dia menarik nafas panjang sambil
memutuskan akan pergi kemana, disaat itu juga perutnya terasa perih, "bu
dhe!"
Sesampainya di luar gedung, ia
mendapati dirinya sendirian, perasaan yang sama, seakan dunia meninggalkannya,
orang-orang yang berlalu lalang tak pernah menghiraukannya. Dia terus berpuisi
didalam hatinya, sambil mengamati kelucuan dunia. Pagi, tidakkah kau butuh kopi.
"Gio!" Sapa seseorang dari
jauh, membuyarkan dunianya, tapi itu hal yang sudah biasa, "bolos lagi ya?
Mau kemana?"
Gio hanya tersenyum, dia mendapati
ada seorang gadis disebelah Delia yang tak ia kenal, "makan. Ojok bilang
bolos lagi gitu ta," ambek Gio.
Delia tertawa mengejek, "eh,
kebetulan, dia juga mau cari makan, tapi aku ngga bisa nemenin, mau
asistensi..."
"Aku bisa cari makan sendiri
kok," sela gadis itu --- tahu arah pembicaraan Delia.
"Ya uda, ayo bareng," tukas
Gio datar.
Radita
Ia sedari tadi memegangi perutnya,
raut wajahnya dibuat cemberut setengah memelas, "Lia, ayo... Belum selesai
ta?" Bujuknya.
Delia, sahabatnya, tak
menghiraukannya, pikiran dan tangannya masih berkutat pada soal statistika yang
deadlinenya sudah lewat 1 jam lebih. Dia mulai berfikir dan menyesali, seandainya
saja tadi malam ia tidak pergi ke pesta berasama Radita.
Dan disaat yang tepat Gio muncul,
"Gio!"
Radita sudah pernah mendengar Gio
sebelumnya, dari Delia. Pria yang tidak terlalu tampan, sangat cuek, tapi
sangat baik. Cuek tapi peduli. Dan saat pertama mendengarnya, ia tertawa,
hampir saja dia benar-benar tertawa sekarang, "aku bisa cari makan sendiri
kok" Dan saat ia mendengar jawaban Gio, ia percaya. Pria cuek tapi peduli
satu ini adalah getaran pertamanya.
Perjalanan yang cukup singkat dari
kampus ke tempat makan, tapi cukup tawa pula yang ia buat karena lelucon cerdas
yang Gio buat. Hatinya bergetar lagi, humoris
dan cerdas.
Radita benar-benar tertarik, selalu
saja ada bahan untuk jadi obrolan dan kemudian tertawa bersama. Dan Gio
terkadang memperlakukannya dengan spesial, seolah tau apa yang diinginkannya,
"Gio, jalan yu..."
"Ayo! Ke Pantai gimana?"
Potong Gio, "agak mendung, nanti ujan-ujan sekalian aja"
Radita tertawa kecil, pria satu ini yaaa, "beliin es krim
ya?" Angguknya setuju.
Gio
Dia menaruh motornya asal, lalu
membenarkannya setelah menyadari lirikan tukang parkir. Tapi kali ini beda,
sepanjang jalan parkiran ia tersenyum, menyapa semua orang, seperti orang gila
: ia jatuh cinta. Dia tidak sabar untuk bisa bertemu Radita lagi, ntah kapan
dan bagaimana, tapi ia harus mencari cara.
Dia duduk di gazebo, pikirannya masih
melayang, antara melamun dan berpikir, ia tak tahu lagi.
"Ehem!" Kaget Nadhira dari
belakang, "kemana aja?" Tanyanya kesal. Gio lalu berbalik.
"Aku bertemu, akhirnya,"
kata Gio antusias, setengah bersajak.
"Siapa?"
"Namanya Radita, baru tadi pagi.
Habis makan bareng, kita ke pantai. Dia benar-benar penuh kejutan!"
Nadhira
Dia keluar kelas dengan membawa dua
tas, Gio yang ia cari-cari tak kunjung nampak. Ia kesal, tapi bagaimanapun
juga, ia tak pernah bisa marah kepada Gio.
Pikirannya masih melayang, apakah Gio tau siapa yang kusuka, sepertinya
ia tidak benar-benar mendengarkan tadi. Apa harus kukatakan lebih jelas? Apa
kode yang kuberi kurang? Apa aku bisa meminta lebih...
Pagi itu Nadhira risau, dan makin
menjadi saat Gio tak kunjung ia dapati. Perutnya perih, tapi mood makan tak
ada. Seandainya Gio tau, pasti Nadhira sudah dimarahi, tapi itu yang ia
inginkan kadang-kadang : sedikit perhatian dari Gio.
Akhirnya siang itu ia melihat Gio,
berjalan riang, tidak sepeti biasanya, lalu duduk berpikir di gazebo. Nadhira
berjalan pelan ke arah Gio, "aku akan bilang kalo belum makan, hihihi,
nanti pasti rambutku diusap-usap, terus diajakin makan bareng" pikirnya
naif.
"Ehem!" Saat itu Gio
menoleh, oh tidak, senyum itu, sinar mata itu... Dia jatuh cinta. Tapi dengan
siapa? Kapan? Apa dalam waktu sesingkat tadi pagi, begitu cantikkah gadis
itu... Pikirannya kacau, cemburu, marah, patah. "Kemana aja?"
"Aku bertemu, akhirnya"
seketika itu dunia Nadhira menjadi gelap, tubuhnya lemas, ia ingin pergi dari
situ, tapi ia harus berhati-hati, Gio pintar menyadari hal-hal kecil --- dia
tidak boleh tahu.
Nadhira menggenapkan kekuatannya, dia
mengais kepingan hatinya, "siapa?"
------------------------------------------------------------------------------------------
3 bulan yang lalu
Radita
Gio...
Send. Radita menunggu dengan penuh
senyum,
Ayo beli
jus!
Balas Gio. Radita
tertawa kecil, anak ini ya... Selalu tau
apa yang aku mau.
Semenjak pertama
bertemu, mereka sudah sering seperti ini, beli makan, beli minum, atau sekedar
hanya ingin bertemu.
Sore itu, mereka
sedang asik mengobrol sambil menikmati jus, atmosfir penuh tawa, penuh
kata-kata tersirat.
"Gio, kamu
suka siapa?" Radita memberanikan diri untu bertanya. Gio hanya diam,
"suka siapaaa?" Gio diam, "Gio siapaaa?".
"Ngga ada,
kamu?" Dunia Radita gelap, ingin rasanya ia diam, menangis, tapi tidak
bisa, Gio masih ada disini.
"Ngga ada
juga."
Gio
"Gio, kamu
suka siapa?" Seketika itu dunia Gio kelabu, dia bingung apa yang harus
dijawabnya. Mula-mula ia harus tau apa maksud pertanyaan itu, dibenaknya ada 2
maksud yang ia tangkap, "aku itu suka kamu, aku mau tau klo kamu suka aku
juga apa ngga, biar aku bisa nge-fix-in hati" atau "aku sudah suka
sama orang lain, aku g mau kamu salah nangkep maksudku selama ini, karena itu
kamu harus suka sama orang biar aku ngga merasa bersalah" dia terus
berfikir, "suka siapaaa?" Gio masih terus berfikir, wanita memang rumit. Dia bingung harus
menjawab apa juga, apakah ia harus jujur, tidak dia terlalu takut, ia takut
Radita bakal menjauh. Dia takut Radita hanya menganggapnya teman, dan jika dia
mengatakan sejujurnya pertemanan itu akan hilang, "Gio siapaaa?"
Seakan arus pendek terjadi diotaknya, "ngga ada, kamu?" "Ngga
ada juga." Dunia Gio gelap.
Gio dengan lemas
mengambil ponselnya yang sedari tadi bergetar, 19 miscall, Nadhira. Dia menekan
tombol panggil, menunggu 2 3 detik, "assalamualaikum," tidak ada
jawaban, hanya isak tangis dari kejauhan, "Bil, kenapa?"
Radita mengamati
Gio, raut mukanya penuh tanya, tapi terlalu aneh juga kalo ia bertanya, ia
diam. Menguping, dan menyiapkan hati, jangan
patah.
Belum sempat ia
mendengar apapun, Gio bergegas berdiri, "maaf, aku harus pergi," Gio
mengusap rambut Radita, meninggalkannya dengan lambaian anak kecil. Lalu
menghilang. Radita menunduk, akhirnya, air
matanya leleh.
Nadhira
Kakinya masih
mengetuk-ngetuk lantai, sesekali ia melirik ke arah handphone --- padahal
settingan loud mode. 1 jam ia menunggu, perutnya yang perih ia abaikan,
dibenaknya hanya 1, Gio.
Tiba-tiba handphone
itu ber-beep sekali, ia langsung melonjak, dilihatnya, sms!
Selamat
malam, matahariku. Sudah makan kah?
Nadhira meniup
rambutnya, kecewa, bukan Gio. Pikirannya mulai dilanda cemburu, mungkin ia
sedang bersama Radita. Tanpa ia sadari, air matanya mulai jatuh, butir demi
butir, ia kaget tapi ia biarkan. Memikirkan Gio bersama Radita cukup membuat
hatinya sakit.
Ia melemparkan
dirinya ke tempat tidur, meringkuk disana, tangisnya makin menjadi. Ia ingin
melepas semua, terkadang ia behenti menangis, lalu menerawang jauh ke masa
lalu, kemudian tangisnya makin menjadi. Perempuan itu rumit.
Terdengar bunyi
beep, beep yang berbeda, telefon! Nadhira memberanikan diri melihat siapa, Gio!
Dia bangkit, mengusap air mata, menenangkan dirinya, lalu mengangkatnya.
"Assalamualaikum," terdengar suara Gio dari ujung sana. Nadhira hanya
diam, dia tak ingin berbicara, tapi disaat yang sama, dia ingin mendengar suara
Gio. "Bil, kenapa?" Nadhira memejamkan mata, membayangkan Gio
didepannya, mengkhawatirkannya atau sekedar mengelus rambutnya.
Gio
Dia memacu
motornya, mengebut, disusurinya jalan macet berkelok itu, sering ia hampir
menabrak mobil dari belakang, atau mendapat cacian. Dia tidak peduli,
dipikirannya hanya satu : Nadhira.
Aku ddpn,
Send. Gio menunggu
dengan cemas didepan kos Nadhira. Lama menunggu, tidak ada balasan. Berulang
kali ia memutar-mutar hp nya, menunggu Nadhira mengangkat, tapi nihil.
Gio melirik jam
ditangan kanannya, jam 11 malam... Pandangannya menerawang, jam itu...
Pemberian Nadhira dulu. Biar on time, katanya. Gio menyerah, mungkin Nadhira
sudah tidur. Tapi tidak, dia jarang tidur sore, pikirannya kemana-mana, kenapa
sampe 19 miscall, dia kenapa? Kenapa diam saja saat di telfon, dia kenapa?
Radita
Hari ini senin,
hari yang sama saat pertama kali ia bertemu Gio, dia memasuki kampus dengan
enggan, ditemani seorang lelaki yang sedari tadi memperlakukannya bak ratu :
Favian. Radita tidak begitu menghiraukannya, dia tau Favian menyukainya, tapi
hatinya bukan lagi milik dunia, Gio sudah menyimpannya, dan dia tidak peduli
entah akan diapakan olehnya.
Banyak orang-orang
memandangi Radita dengan aneh, lalu tersenyum pada Favian. Favian adalah pria
tampan, terkenal, banyak gadis yang tergila-gila padanya, tapi bukan Radita.
Sudah 2 bulan ini Favian mendekati Radita, memperlakukannya spesial, tapi masih
nihil, Radita tidak pernah membalas.
Mereka duduk di
sebuah kursi, meja bundar didepannya, Favian mulai mengeluarkan buku. Mendadak
1 gadis duduk, tersenyum pada Favian, lalu mengobrol dengannya. 15 menit berada
disana, sudah ada 5 gadis yang berpura-pura ingin diajari oleh Favian.
Pikiran Radita
penat, dia berdiri, "aku ke kamar mandi dulu," dibelokkan itu dia
bernafas panjang. Matanya berputar, dan tepat berhenti saat ia menyadari sosok
dari balik jendela, Gio. Tapi dengan siapa dia? Mengapa duduk hanya berdua
dikelas yang sudah selesai itu, oh itu
dia..Bil... Apakah mereka berpacaran?
Radita mengendap-ngendap,
sambil membungkuk, ia mencoba menguping. Ia tahu hal yang dilakukannya tidak
baik, tapi ini benar-benar bisa membunuhnya perlahan, ia harus tahu.
"Gio, apa kamu
ingat aku pernah bercerita tentang orang yang aku suka..,"
"Ia, Elgar
bukan?" Kata Gio datar.
"Jadi selama
ini kamu mengira dia?" Nadhira tertawa kecil, "bukan, Gio, bukan
dia.."
"Eh? Serius,
Bil?"
"Ia,
Gio.."
"Padahal 90
persen aku positif dia yang kamu suka, dia cocok dengan sikapmu, dia juga baik
dan selalu memperhatikanmu.."
"Aku tahu,
tapi ada yang lebih spesial, dia selalu tau yang aku inginkan dan pikirkan..
Tapi dia benar-benar jadi orang bego kalo menyangkut masalah perasaan"
Nadhira tertawa kecil, "aku suka kamu, Gio. Aku menyayangimu.."
Radita sesak nafas,
seakan oksigen tidak berada disana.
"Aku juga
sayang padamu," Gio menjawab. Radita benar-benar harus pergi, atau hatinya
akan lebih hancur lagi. Dia berlari, airmatanya tak kuasa ia tahan. Dia butuh
pelukan, tapi siapa? Apa? Tidak mungkin juga dia memeluk boneka kura-kura nya,
itu pemberian Gio!
Dia berlari, lalu
menabrak seseorang, Favian! Favian memeluknya, ia menangis sejadi-jadinya,
pelukan itu terasa hangat, seandainya itu Gio... Tangisnya makin menjadi.
Gadis-gadis yang melihatnya hanya melongo, marah, mereka cemburu.
Nadhira
Ia harus
mengatakannya sekarang atau tidak sama sekali. Ia takut terlambat, harus
dikatakan, semua rasa yang ia pendam dua tahun sendirian, Gio harus tau.
Mendadak nafasnya sesak, "Aku tahu, tapi ada yang lebih spesial, dia
selalu tau yang aku inginkan dan pikirkan.. Tapi dia benar-benar jadi orang
bego kalo menyangkut masalah perasaan" Nadhira tertawa kecil, "aku
suka kamu, Gio. Aku menyayangimu.."
Sudah kukatakan, kuserahkan sisanya padamu, Gio, apapun jawabanmu. Jantungnya
berdebar-debar.
"Aku juga
sayang padamu," jawaban itu, tidak, Nadhira tau jawaban ini, bukan sayang
yang ia harapkan.. "Kamu orang yang penting buatku, Bil. Kamu sahabat ku,
orang yang paling mengerti aku. Tapi maaf, aku ngga bisa ngasih lebih, aku
menginginkan Radita, Bil, cuma dia..."
Nadhira terdiam,
ada rasa sakit yang menajalar, tapi rasanya lega juga telah mengungkapkan
semuanya, dan dia senang bahwa Gio tidak berubah sedikitpun, "makasih,
Gio. Aku lega... Tolong, jangan pernah berubah ya," dia menarik nafas
panjang, "Terus kapan rencanae kamu nembak Radita?"
"Entahlah, aku
takut. Aku takut dia akan menjauh jika dia tahu kalo aku menyukainya. Lagi
pula, sepertinya dia menyukai Favian. Dan jika aku jadi perempuan, aku lebih
memilih Favian dari pada Gio," muka Gio lesu.
Gio
Ia berjalan lesu,
dia ingin secepatnya masuk kelas, "Gio kenapaaa?" Ia benar-benar
malas bertemu dengannya, hatinya hancur setiap melihatnya, "aku ada kelas,
Di" dia pergi begitu saja, meninggalkan Radita penuh tanya.
Sip! Dosen itu
lagi, tapi ini lebih baik daripada menghadapi Radita didepan, dia melirik
sebentar, Nadhira melambai, Ia duduk disebelahnya.
"Kamu kenapa
Gio?" Nadhira tau ada yang salah.
"Radita, dia
jadian..." Nada bicaranya diseret, "aku baru tau kemarin, pantas saja
2 bulan ini dia agak menjauh, sepertinya malam itu ia menyuruhku mundur
teratur"
Nadhira ikut
bersedih, hancur rasanya melihat orang yang disayanginya terluka, "Gio...
Sabar," bodoh, dari ribuan kata,
kenapa hanya itu yang keluar.
"Ia, gapapa kok, sebagian diriku seneng, Favian pasti bisa lebih jaga
dia dari pada aku... Tapi aku ngga mau munafik, aku patah hati, Pagi merindukan
Kopi..."
Dan sadarkah kau, matahari membakar kesedihannya sendiri, "eh, Gio,
aku mau curhat!" Nadhira mengalihkan perhatian, tak ingin sahabatnya itu
terus bersedih.
"Aku tebak,
kamu jadian ya?" Gio mulai bersemangat. Nadhira hanya mengangguk dan
tersenyum kecil, "traktiiiiir!!!" Teriak Gio manja, seperti anak
kecil yang meminta kembang gula.
"2 hari lalu
Elgar nembak aku, kamu tahu, dia pake puisi! Romantis banget! Terus dia
ngluarin bunga mawar putih, aku malu... Diliatin sama mbak-mbak kosku sama ibu
kos. Aku liat matanya, tulus banget, jadi aku bilang, aku kasih
kesempatan..." Dia melirik Gio, hhhh, dia jelas-jelas sedang suntuk, tidak
tertarik dengan cerita seperti itu, "Gio, kamu harus ngomong, walaupun
telat. Percaya aku, rasanya lega..."
Radita
"Neng,"
sapa Favian dari belakang, Radita yang merenung di gazebo sendirian kaget, ia
menoleh, melempar senyum.
"Hei.."
Jawab Radita datar.
"Kamu kenapa,
sayang?" Favian mengelus rambutnya.
"Ngga papa
kok,"
"Oh, ya udah.
Aku mau futsal dulu sama anak-anak. Aku pergi dulu ya," Favian langsung
pergi. Seandainya dia Gio, pasti ia tau
kalo aku kenapa-kenapa, Gio tidak akan men-ya udah-kan semudah itu. Matanya
menerawang jauh, mengingat masalalu, seandainya ada jus jambu, mungkin akan
lebih tenang. Pagiku, aku merindukanmu
yang dulu.
Tiba-tiba seseorang
mengagetinya dari belakang, menutup matanya.. Tingkah kekanak-kanakan ini... Radita menoleh. Gio! Gio menutup
wajahnya dengan dua tangannya, "knock, knock, siapa disana?" Radita
tertawa kecil.
"Ini aku,
Pagi" jawab Gio, ia ikut tertawa kecil, lalu membuka tangannya,
"haha, galauan, yek! Kenapa lagi kamu?" Gio membungkuk, mengambil tas
kresek putih di bawahnya, jus jambu! Lalu memberikannya kepada Radita,
"biar tenang,"
Radita tertawa
kecil, anak ini ya... Dia bahagia,
"ada apa kok tiba-tiba disini, bukannya kamu kelas?" Sambil meneguk
jus nya.
"Aku mau meminta
maaf, maaf ya uda nyuekin kamu tadi..." Gio maju selangkah, duduk
disebelah Radita, "aku uda tau, Di. Jangan ditutupin, dan jangan
sedih." Perkataannya membuat Radita bingung, "selamat ya... Semoga
langgeng sama Favian. Aku ikut seneng"
"Gio..."
Radita melihat senyum itu lagi, mungkinkah ia yang membuatnya bersedih...
"Di, aku cuma
pengen kamu tau..." Gio menghela nafas panjang, "aku sayang kamu,
sejak pertama bertemu. Dan aku benar-benar menyayangimu hingga aku tak peduli
lagi sama perasaanku, aku cuma pengen lihat kamu senyum tiap hari. Dan aku
janji, aku juga bakal tersenyum tiap hari..."
Radita mulai
menangis, "kamu jahat, Gio... Kamu orang paling jahat!" Matanya
bertatapan dengan mata Gio, Radita seakan masuk kedalamnya, dan damai disana,
"aku juga sayang kamu... Sejak awal... Seandainya kamu ngomong sebelum
Favian..."
"Maaf... Aku
orang paling pengecut yang kamu tahu. Maaf..." Gio menghela nafas panjang,
"aku kenal Favian, dia orang baik. Buat dia bahagia ya, Di. Dan buat
dirimu sendiri bahagia," Gio mengelus rambut Radita. Kemudian memegang
kedua pipinya, "apapun yang terjadi, aku bakal ada buat kamu, aku ngga
akan berubah, tetep Gio yang dulu, yang kamu tau. Ntah kamu mnganggep aku apa
sekarang, yang pasti aku menyayangimu, selalu" Gio tersenyum lembut. Begitu hangat...
--------------------------------------------------------------------------------------------
Cinta itu
membebaskan, bukan mengikat, jadi kamu tidak perlu label untuk rasa cintamu
itu.
Orang yang
mengatakan cinta itu tidak harus memiliki adalah orang yang tidak pernah
merasakan cinta. Tapi, jika kamu mencintai seseorang, biarkan ia bahagia dengan
pilihannya.


0 comments:
Post a Comment