Saturday, May 11

Kopi, Pagi, dan Matahari


"Kamu kenapaaa?" Laki-laki itu hanya diam, dia menunduk lesu, "kamu kenapa kok?" Hening, tidak ada jawaban. "Gio kenapa?" Dia mengangkat kepalanya, melihat gadis yang dari tadi mencemaskannya.
"Aku ada kelas, Di" sambil melempar senyum, tapi bukan senyum biasa, ada seciprat kesedihan yang berusaha dia sampaikan.
"Aku tau, dan itu ngga menjawab pertanyaanku, kamu kenapa kok? Ojok ruwet!" Radita semakin cemas, ia tahu Gio yang dikenalnya, senyuman itu, dan tingkah lakunya sekarang : ada masalah berat yang sedang ia coba tanggung sendiri.
Gio tidak menghiraukannya, lalu pergi begitu saja, tanpa kata, tanpa lambaian tangan yang kekanak'an, tanpa usapan rambut, tapi hanya senyum --- dan kesedihan dibaliknya.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------
6 bulan yang lalu,
Gio
Matanya yang hitam sudah hampir sepenuhnya tertutup, kurang tidur, efek begadang ---  mengerjakan tugas dan main dota. Beberapa kali ia harus pura' mendengarkan celotehan dosen didepan, yang tak ia tahu maksudnya. Note yang sejak tadi ia keluarkan, sudah penuh dengan tulisan' bak pujangga, dan dipojok-pojoknya terdapat gambar graviti asal.
"Woi! Hahaha," kaget seorang gadis dari sampingnya, "ojok tidur, aku mau curhat!"
Sip! Lengkap sudah : energinya yang tinggal 5 watt, kuliah pagi dengan dosen yang sepeti ini, dan ditambah satu orang ini --- yang bisa berjam-jam bercerita dan memaksa Gio untuk terus mendengarkan, "hm?" Jawabnya singkat.
Gadis itu menatapnya, tatapan yang bisa membuat siapapun merasa bersalah, tatapan anak kecil polos yang ingin minta es krim. "Hhhh, ia, apa nabila?" Gio terpaksa harus menegakkan badan dan mengangkat alis, seolah-olah tertarik dengan apa yang akan didengarnya.
"Nadhira, Gio!!" Pintanya tidak setuju karena Gio memanggil nama depannya. "Aku lagi suka ama anak lho! Jadi gini....."
Sip! Akhirnya setelah 15 menit bercerita, akhirnya selesai juga. Gio benar-benar sudah lelah, "Bil, nanti tasku bawain ya, enteng kok" lalu secepat kilat ia sudah berada didepan, melempar senyum sopan kepada dosen, "pak, izin ke kamar mandi"
Keluar dari sana, mata Gio kembali terbuka lebar, kakinya terasa ringan, dia menarik nafas panjang sambil memutuskan akan pergi kemana, disaat itu juga perutnya terasa perih, "bu dhe!"
Sesampainya di luar gedung, ia mendapati dirinya sendirian, perasaan yang sama, seakan dunia meninggalkannya, orang-orang yang berlalu lalang tak pernah menghiraukannya. Dia terus berpuisi didalam hatinya, sambil mengamati kelucuan dunia. Pagi, tidakkah kau butuh kopi.
"Gio!" Sapa seseorang dari jauh, membuyarkan dunianya, tapi itu hal yang sudah biasa, "bolos lagi ya? Mau kemana?"
Gio hanya tersenyum, dia mendapati ada seorang gadis disebelah Delia yang tak ia kenal, "makan. Ojok bilang bolos lagi gitu ta," ambek Gio.
Delia tertawa mengejek, "eh, kebetulan, dia juga mau cari makan, tapi aku ngga bisa nemenin, mau asistensi..."
"Aku bisa cari makan sendiri kok," sela gadis itu --- tahu arah pembicaraan Delia.
"Ya uda, ayo bareng," tukas Gio datar.


Radita
Ia sedari tadi memegangi perutnya, raut wajahnya dibuat cemberut setengah memelas, "Lia, ayo... Belum selesai ta?" Bujuknya.
Delia, sahabatnya, tak menghiraukannya, pikiran dan tangannya masih berkutat pada soal statistika yang deadlinenya sudah lewat 1 jam lebih. Dia mulai berfikir dan menyesali, seandainya saja tadi malam ia tidak pergi ke pesta berasama Radita.
Dan disaat yang tepat Gio muncul, "Gio!"
Radita sudah pernah mendengar Gio sebelumnya, dari Delia. Pria yang tidak terlalu tampan, sangat cuek, tapi sangat baik. Cuek tapi peduli. Dan saat pertama mendengarnya, ia tertawa, hampir saja dia benar-benar tertawa sekarang, "aku bisa cari makan sendiri kok" Dan saat ia mendengar jawaban Gio, ia percaya. Pria cuek tapi peduli satu ini adalah getaran pertamanya.
Perjalanan yang cukup singkat dari kampus ke tempat makan, tapi cukup tawa pula yang ia buat karena lelucon cerdas yang Gio buat. Hatinya bergetar lagi, humoris dan cerdas.
Radita benar-benar tertarik, selalu saja ada bahan untuk jadi obrolan dan kemudian tertawa bersama. Dan Gio terkadang memperlakukannya dengan spesial, seolah tau apa yang diinginkannya, "Gio, jalan yu..."
"Ayo! Ke Pantai gimana?" Potong Gio, "agak mendung, nanti ujan-ujan sekalian aja"
Radita tertawa kecil, pria satu ini yaaa, "beliin es krim ya?" Angguknya setuju.

Gio
Dia menaruh motornya asal, lalu membenarkannya setelah menyadari lirikan tukang parkir. Tapi kali ini beda, sepanjang jalan parkiran ia tersenyum, menyapa semua orang, seperti orang gila : ia jatuh cinta. Dia tidak sabar untuk bisa bertemu Radita lagi, ntah kapan dan bagaimana, tapi ia harus mencari cara.
Dia duduk di gazebo, pikirannya masih melayang, antara melamun dan berpikir, ia tak tahu lagi.
"Ehem!" Kaget Nadhira dari belakang, "kemana aja?" Tanyanya kesal. Gio lalu berbalik.
"Aku bertemu, akhirnya," kata Gio antusias, setengah bersajak.
"Siapa?"
"Namanya Radita, baru tadi pagi. Habis makan bareng, kita ke pantai. Dia benar-benar penuh kejutan!"

Nadhira

Dia keluar kelas dengan membawa dua tas, Gio yang ia cari-cari tak kunjung nampak. Ia kesal, tapi bagaimanapun juga, ia tak pernah bisa marah kepada Gio.
Pikirannya masih melayang, apakah Gio tau siapa yang kusuka, sepertinya ia tidak benar-benar mendengarkan tadi. Apa harus kukatakan lebih jelas? Apa kode yang kuberi kurang? Apa aku bisa meminta lebih...
Pagi itu Nadhira risau, dan makin menjadi saat Gio tak kunjung ia dapati. Perutnya perih, tapi mood makan tak ada. Seandainya Gio tau, pasti Nadhira sudah dimarahi, tapi itu yang ia inginkan kadang-kadang : sedikit perhatian dari Gio.
Akhirnya siang itu ia melihat Gio, berjalan riang, tidak sepeti biasanya, lalu duduk berpikir di gazebo. Nadhira berjalan pelan ke arah Gio, "aku akan bilang kalo belum makan, hihihi, nanti pasti rambutku diusap-usap, terus diajakin makan bareng" pikirnya naif.
"Ehem!" Saat itu Gio menoleh, oh tidak, senyum itu, sinar mata itu... Dia jatuh cinta. Tapi dengan siapa? Kapan? Apa dalam waktu sesingkat tadi pagi, begitu cantikkah gadis itu... Pikirannya kacau, cemburu, marah, patah. "Kemana aja?"
"Aku bertemu, akhirnya" seketika itu dunia Nadhira menjadi gelap, tubuhnya lemas, ia ingin pergi dari situ, tapi ia harus berhati-hati, Gio pintar menyadari hal-hal kecil --- dia tidak boleh tahu.
Nadhira menggenapkan kekuatannya, dia mengais kepingan hatinya, "siapa?"
------------------------------------------------------------------------------------------
3 bulan yang lalu
Radita

Gio...
Send. Radita menunggu dengan penuh senyum,
Ayo beli jus!
Balas Gio. Radita tertawa kecil, anak ini ya... Selalu tau apa yang aku mau.
Semenjak pertama bertemu, mereka sudah sering seperti ini, beli makan, beli minum, atau sekedar hanya ingin bertemu.
Sore itu, mereka sedang asik mengobrol sambil menikmati jus, atmosfir penuh tawa, penuh kata-kata tersirat.
"Gio, kamu suka siapa?" Radita memberanikan diri untu bertanya. Gio hanya diam, "suka siapaaa?" Gio diam, "Gio siapaaa?".
"Ngga ada, kamu?" Dunia Radita gelap, ingin rasanya ia diam, menangis, tapi tidak bisa, Gio masih ada disini. 
"Ngga ada juga."

Gio
"Gio, kamu suka siapa?" Seketika itu dunia Gio kelabu, dia bingung apa yang harus dijawabnya. Mula-mula ia harus tau apa maksud pertanyaan itu, dibenaknya ada 2 maksud yang ia tangkap, "aku itu suka kamu, aku mau tau klo kamu suka aku juga apa ngga, biar aku bisa nge-fix-in hati" atau "aku sudah suka sama orang lain, aku g mau kamu salah nangkep maksudku selama ini, karena itu kamu harus suka sama orang biar aku ngga merasa bersalah" dia terus berfikir, "suka siapaaa?" Gio masih terus berfikir, wanita memang rumit. Dia bingung harus menjawab apa juga, apakah ia harus jujur, tidak dia terlalu takut, ia takut Radita bakal menjauh. Dia takut Radita hanya menganggapnya teman, dan jika dia mengatakan sejujurnya pertemanan itu akan hilang, "Gio siapaaa?" Seakan arus pendek terjadi diotaknya, "ngga ada, kamu?" "Ngga ada juga." Dunia Gio gelap.
Gio dengan lemas mengambil ponselnya yang sedari tadi bergetar, 19 miscall, Nadhira. Dia menekan tombol panggil, menunggu 2 3 detik, "assalamualaikum," tidak ada jawaban, hanya isak tangis dari kejauhan, "Bil, kenapa?"
Radita mengamati Gio, raut mukanya penuh tanya, tapi terlalu aneh juga kalo ia bertanya, ia diam. Menguping, dan menyiapkan hati, jangan patah.
Belum sempat ia mendengar apapun, Gio bergegas berdiri, "maaf, aku harus pergi," Gio mengusap rambut Radita, meninggalkannya dengan lambaian anak kecil. Lalu menghilang. Radita menunduk, akhirnya, air matanya leleh.

Nadhira
Kakinya masih mengetuk-ngetuk lantai, sesekali ia melirik ke arah handphone --- padahal settingan loud mode. 1 jam ia menunggu, perutnya yang perih ia abaikan, dibenaknya hanya 1, Gio.
Tiba-tiba handphone itu ber-beep sekali, ia langsung melonjak, dilihatnya, sms!
Selamat malam, matahariku. Sudah makan kah?
Nadhira meniup rambutnya, kecewa, bukan Gio. Pikirannya mulai dilanda cemburu, mungkin ia sedang bersama Radita. Tanpa ia sadari, air matanya mulai jatuh, butir demi butir, ia kaget tapi ia biarkan. Memikirkan Gio bersama Radita cukup membuat hatinya sakit.
Ia melemparkan dirinya ke tempat tidur, meringkuk disana, tangisnya makin menjadi. Ia ingin melepas semua, terkadang ia behenti menangis, lalu menerawang jauh ke masa lalu, kemudian tangisnya makin menjadi. Perempuan itu rumit.
Terdengar bunyi beep, beep yang berbeda, telefon! Nadhira memberanikan diri melihat siapa, Gio! Dia bangkit, mengusap air mata, menenangkan dirinya, lalu mengangkatnya. "Assalamualaikum," terdengar suara Gio dari ujung sana. Nadhira hanya diam, dia tak ingin berbicara, tapi disaat yang sama, dia ingin mendengar suara Gio. "Bil, kenapa?" Nadhira memejamkan mata, membayangkan Gio didepannya, mengkhawatirkannya atau sekedar mengelus rambutnya.

Gio
Dia memacu motornya, mengebut, disusurinya jalan macet berkelok itu, sering ia hampir menabrak mobil dari belakang, atau mendapat cacian. Dia tidak peduli, dipikirannya hanya satu : Nadhira.
Aku ddpn,
Send. Gio menunggu dengan cemas didepan kos Nadhira. Lama menunggu, tidak ada balasan. Berulang kali ia memutar-mutar hp nya, menunggu Nadhira mengangkat, tapi nihil.
Gio melirik jam ditangan kanannya, jam 11 malam... Pandangannya menerawang, jam itu... Pemberian Nadhira dulu. Biar on time, katanya. Gio menyerah, mungkin Nadhira sudah tidur. Tapi tidak, dia jarang tidur sore, pikirannya kemana-mana, kenapa sampe 19 miscall, dia kenapa? Kenapa diam saja saat di telfon, dia kenapa?


Radita

Hari ini senin, hari yang sama saat pertama kali ia bertemu Gio, dia memasuki kampus dengan enggan, ditemani seorang lelaki yang sedari tadi memperlakukannya bak ratu : Favian. Radita tidak begitu menghiraukannya, dia tau Favian menyukainya, tapi hatinya bukan lagi milik dunia, Gio sudah menyimpannya, dan dia tidak peduli entah akan diapakan olehnya.
Banyak orang-orang memandangi Radita dengan aneh, lalu tersenyum pada Favian. Favian adalah pria tampan, terkenal, banyak gadis yang tergila-gila padanya, tapi bukan Radita. Sudah 2 bulan ini Favian mendekati Radita, memperlakukannya spesial, tapi masih nihil, Radita tidak pernah membalas.
Mereka duduk di sebuah kursi, meja bundar didepannya, Favian mulai mengeluarkan buku. Mendadak 1 gadis duduk, tersenyum pada Favian, lalu mengobrol dengannya. 15 menit berada disana, sudah ada 5 gadis yang berpura-pura ingin diajari oleh Favian.
Pikiran Radita penat, dia berdiri, "aku ke kamar mandi dulu," dibelokkan itu dia bernafas panjang. Matanya berputar, dan tepat berhenti saat ia menyadari sosok dari balik jendela, Gio. Tapi dengan siapa dia? Mengapa duduk hanya berdua dikelas yang sudah selesai itu, oh itu dia..Bil... Apakah mereka berpacaran?
Radita mengendap-ngendap, sambil membungkuk, ia mencoba menguping. Ia tahu hal yang dilakukannya tidak baik, tapi ini benar-benar bisa membunuhnya perlahan, ia harus tahu.

"Gio, apa kamu ingat aku pernah bercerita tentang orang yang aku suka..,"
"Ia, Elgar bukan?" Kata Gio datar.
"Jadi selama ini kamu mengira dia?" Nadhira tertawa kecil, "bukan, Gio, bukan dia.."
"Eh? Serius, Bil?"
"Ia, Gio.."
"Padahal 90 persen aku positif dia yang kamu suka, dia cocok dengan sikapmu, dia juga baik dan selalu memperhatikanmu.."
"Aku tahu, tapi ada yang lebih spesial, dia selalu tau yang aku inginkan dan pikirkan.. Tapi dia benar-benar jadi orang bego kalo menyangkut masalah perasaan" Nadhira tertawa kecil, "aku suka kamu, Gio. Aku menyayangimu.."
Radita sesak nafas, seakan oksigen tidak berada disana.
"Aku juga sayang padamu," Gio menjawab. Radita benar-benar harus pergi, atau hatinya akan lebih hancur lagi. Dia berlari, airmatanya tak kuasa ia tahan. Dia butuh pelukan, tapi siapa? Apa? Tidak mungkin juga dia memeluk boneka kura-kura nya, itu pemberian Gio!
Dia berlari, lalu menabrak seseorang, Favian! Favian memeluknya, ia menangis sejadi-jadinya, pelukan itu terasa hangat, seandainya itu Gio... Tangisnya makin menjadi. Gadis-gadis yang melihatnya hanya melongo, marah, mereka cemburu.


Nadhira
Ia harus mengatakannya sekarang atau tidak sama sekali. Ia takut terlambat, harus dikatakan, semua rasa yang ia pendam dua tahun sendirian, Gio harus tau. Mendadak nafasnya sesak, "Aku tahu, tapi ada yang lebih spesial, dia selalu tau yang aku inginkan dan pikirkan.. Tapi dia benar-benar jadi orang bego kalo menyangkut masalah perasaan" Nadhira tertawa kecil, "aku suka kamu, Gio. Aku menyayangimu.."
Sudah kukatakan, kuserahkan sisanya padamu, Gio, apapun jawabanmu. Jantungnya berdebar-debar.
"Aku juga sayang padamu," jawaban itu, tidak, Nadhira tau jawaban ini, bukan sayang yang ia harapkan.. "Kamu orang yang penting buatku, Bil. Kamu sahabat ku, orang yang paling mengerti aku. Tapi maaf, aku ngga bisa ngasih lebih, aku menginginkan Radita, Bil, cuma dia..."
Nadhira terdiam, ada rasa sakit yang menajalar, tapi rasanya lega juga telah mengungkapkan semuanya, dan dia senang bahwa Gio tidak berubah sedikitpun, "makasih, Gio. Aku lega... Tolong, jangan pernah berubah ya," dia menarik nafas panjang, "Terus kapan rencanae kamu nembak Radita?"
"Entahlah, aku takut. Aku takut dia akan menjauh jika dia tahu kalo aku menyukainya. Lagi pula, sepertinya dia menyukai Favian. Dan jika aku jadi perempuan, aku lebih memilih Favian dari pada Gio," muka Gio lesu.

Gio

Ia berjalan lesu, dia ingin secepatnya masuk kelas, "Gio kenapaaa?" Ia benar-benar malas bertemu dengannya, hatinya hancur setiap melihatnya, "aku ada kelas, Di" dia pergi begitu saja, meninggalkan Radita penuh tanya.
Sip! Dosen itu lagi, tapi ini lebih baik daripada menghadapi Radita didepan, dia melirik sebentar, Nadhira melambai, Ia duduk disebelahnya.
"Kamu kenapa Gio?" Nadhira tau ada yang salah.
"Radita, dia jadian..." Nada bicaranya diseret, "aku baru tau kemarin, pantas saja 2 bulan ini dia agak menjauh, sepertinya malam itu ia menyuruhku mundur teratur"
Nadhira ikut bersedih, hancur rasanya melihat orang yang disayanginya terluka, "Gio... Sabar," bodoh, dari ribuan kata, kenapa hanya itu yang keluar.
"Ia, gapapa kok, sebagian diriku seneng, Favian pasti bisa lebih jaga dia dari pada aku... Tapi aku ngga mau munafik, aku patah hati, Pagi merindukan Kopi..."
Dan sadarkah kau, matahari membakar kesedihannya sendiri, "eh, Gio, aku mau curhat!" Nadhira mengalihkan perhatian, tak ingin sahabatnya itu terus bersedih.
"Aku tebak, kamu jadian ya?" Gio mulai bersemangat. Nadhira hanya mengangguk dan tersenyum kecil, "traktiiiiir!!!" Teriak Gio manja, seperti anak kecil yang meminta kembang gula.
"2 hari lalu Elgar nembak aku, kamu tahu, dia pake puisi! Romantis banget! Terus dia ngluarin bunga mawar putih, aku malu... Diliatin sama mbak-mbak kosku sama ibu kos. Aku liat matanya, tulus banget, jadi aku bilang, aku kasih kesempatan..." Dia melirik Gio, hhhh, dia jelas-jelas sedang suntuk, tidak tertarik dengan cerita seperti itu, "Gio, kamu harus ngomong, walaupun telat. Percaya aku, rasanya lega..."

Radita

"Neng," sapa Favian dari belakang, Radita yang merenung di gazebo sendirian kaget, ia menoleh, melempar senyum.
"Hei.." Jawab Radita datar.
"Kamu kenapa, sayang?" Favian mengelus rambutnya.
"Ngga papa kok,"
"Oh, ya udah. Aku mau futsal dulu sama anak-anak. Aku pergi dulu ya," Favian langsung pergi. Seandainya dia Gio, pasti ia tau kalo aku kenapa-kenapa, Gio tidak akan men-ya udah-kan semudah itu. Matanya menerawang jauh, mengingat masalalu, seandainya ada jus jambu, mungkin akan lebih tenang. Pagiku, aku merindukanmu yang dulu.
Tiba-tiba seseorang mengagetinya dari belakang, menutup matanya.. Tingkah kekanak-kanakan ini... Radita menoleh. Gio! Gio menutup wajahnya dengan dua tangannya, "knock, knock, siapa disana?" Radita tertawa kecil.
"Ini aku, Pagi" jawab Gio, ia ikut tertawa kecil, lalu membuka tangannya, "haha, galauan, yek! Kenapa lagi kamu?" Gio membungkuk, mengambil tas kresek putih di bawahnya, jus jambu! Lalu memberikannya kepada Radita, "biar tenang,"
Radita tertawa kecil, anak ini ya... Dia bahagia, "ada apa kok tiba-tiba disini, bukannya kamu kelas?" Sambil meneguk jus nya.
"Aku mau meminta maaf, maaf ya uda nyuekin kamu tadi..." Gio maju selangkah, duduk disebelah Radita, "aku uda tau, Di. Jangan ditutupin, dan jangan sedih." Perkataannya membuat Radita bingung, "selamat ya... Semoga langgeng sama Favian. Aku ikut seneng"
"Gio..." Radita melihat senyum itu lagi, mungkinkah ia yang membuatnya bersedih...
"Di, aku cuma pengen kamu tau..." Gio menghela nafas panjang, "aku sayang kamu, sejak pertama bertemu. Dan aku benar-benar menyayangimu hingga aku tak peduli lagi sama perasaanku, aku cuma pengen lihat kamu senyum tiap hari. Dan aku janji, aku juga bakal tersenyum tiap hari..."
Radita mulai menangis, "kamu jahat, Gio... Kamu orang paling jahat!" Matanya bertatapan dengan mata Gio, Radita seakan masuk kedalamnya, dan damai disana, "aku juga sayang kamu... Sejak awal... Seandainya kamu ngomong sebelum Favian..."
"Maaf... Aku orang paling pengecut yang kamu tahu. Maaf..." Gio menghela nafas panjang, "aku kenal Favian, dia orang baik. Buat dia bahagia ya, Di. Dan buat dirimu sendiri bahagia," Gio mengelus rambut Radita. Kemudian memegang kedua pipinya, "apapun yang terjadi, aku bakal ada buat kamu, aku ngga akan berubah, tetep Gio yang dulu, yang kamu tau. Ntah kamu mnganggep aku apa sekarang, yang pasti aku menyayangimu, selalu" Gio tersenyum lembut. Begitu hangat...
--------------------------------------------------------------------------------------------
Cinta itu membebaskan, bukan mengikat, jadi kamu tidak perlu label untuk rasa cintamu itu.
Orang yang mengatakan cinta itu tidak harus memiliki adalah orang yang tidak pernah merasakan cinta. Tapi, jika kamu mencintai seseorang, biarkan ia bahagia dengan pilihannya.

0 comments:

Post a Comment